Major vs Minor

Oke, judulnya pasti menimbulkan sesuatu yang sensitif untuk beberapa orang yang menyebut dirinya indonesia.

Ini hanyalah catatan dari kaum minoritas.

Terlahir sebagai seorang anak berkelamin perempuan, beragama kristen dengan keturunan manado-jawa.

Sejak TK hingga SMP bersekolah di Negeri dan selalu mendapat cap minoritas.

Saya orang jawa yang bersekolah dengan banyak orang jawa, tapi saya minoritas ketika harus menyebut agama.

Berbeda dengan SMA dan Kuliah, saya bersekolah di yayasan Kristen dan Katolik.

Saya beragama kristen dan sama dengan kebanyak teman saya lain, tapi tetep ada yang menyebut saya minoritas ketika mereka menyebut saya Jawa (padahal manado ✌️), karena face & color skin “njawani” dan kebanyak teman saya dari etnis tionghoa.

Berbeda lagi ketika saya kursus dance dan LBB.

Saya kira saya tidak akan mendapat cap minoritas, tetapi tetap saja saya berbeda karna warna kulit saya yg cukup gelap.

Saya tidak pernah seutuhnya menjadi mayoritas dan tidak juga sepenuhnya minoritas. Berlaku semena-mena? Pernah. Diperlakukan tidak adil? Juga pernah. Selama masih nginjek bumi, gak ada yang keadilan sempurna, right?

Indonesia ini indah karna keberagamannya dan itu yang membedakan dengan negara lain. Dan itu juga yang membuat iri bangsa lain, pastinya bukan setahunan ini 🙂 Pahamlah ya maksud saya. Ketika mayoritas merasa berkuasa dan bisa berbuat seenaknya dan minoritas hanya bisa menyangsikan dan menerima meskipun gak legowo. 

Akupun mulai berpikir, 

Benarkah indonesia sedamai ini dari dulu? Ataukah ini adalah sebuah riak yang muncul dari lama hanya saja tidak disuarakan?

Mari kita ambil contoh, gak usahlah ngomongin mayoritas atau minoritas, manusia itu suka ngejudge orang dari kesukuannya, seperti :

  • Orang batak emang gitu, kalo ngomong pake toa
  • Orang manado itu pagi siang sore party suka minum-minum
  • Orang jawa itu cocoknya kerja ikut orang
  • Cina pelit
  • Orang itu papua itu keras.
  • Dan blablabla.

Aku yakin beberapa statement itu gak asing bagi orang indo. Begitu gampangnya kita nge-judge orang cuma dari kesukuannya. Salah banget padahal kalo kita menilai seseorang dari apa yang tidak ia lakukan, apalagi dari kelompoknya.

Aku pernah denger statement kaya gini :

Jangan pernah menilai anak dari kelakuan bapaknya. 

Meskipun anak punya sebagian genetik bapaknya tapi jika kita langsung menilai seorang anak dari kelakuan buruk anaknya itu gak adil. Anak punya pilihan men. Dan buruknya lagi, sudah gak kenal eh kok nge-judge. Dalam bahasa jawa disebut gendeng!

Saat kita sudah meninggalkan pemikiran “aku mayor, kamu minor terus kamu bisa apa” atau sebaliknya, kita bisa membentuk hubungan yang baik.

Kita punya sejuta alasan untuk cari perbedaan, tapi juga punya satu alasan untuk tidak melakukan itu “kenapa tida

Ketika kita memilih untuk menyamakan daripada membedakan, sebenarnya kita sedang mendalami makna pancasila. Nilai-nilai pancasila itu indah men dan nilai-nilai itu sudah menuntun kita untuk melihat betapa WOWnya indonesia.

Sayapun belajar menghargai dan mengasihi setiap orang disekeliling saya, dan saya bersyukur masih buanyaaakk orang-orang yang gak lihat perbedaan tapi menyatukan perbedaan itu menjadi warna yang indah.
Saya Indonesia, I’m proud to be Indonesian dan kulo tresno Indonesia.
(Nb. Mari kita bahas toleran vs intoleran selanjutnya ya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s