Do My Best for My Self

Beberapa waktu yang lalu…

Sewaktu dalam perjalanan pulang naik motor, aku melihat ada seorang abdi negara berseragam loreng naik motor juga dan berboncengan dengan perempuan. Si “loreng” pakai helm, tapi yang dibonceng gak pake helm. Si perempuan ini pake hijab (alternatif pengganti helm?). Pas berpapasan aku udah mikir “nekat abis nih orang ya”. Terus ada dua pilihan jalan, yaitu flyover dan jalan bawah. Kebetulan di jam tersebut, motor gak boleh lewat sana (boleh lewat di jam tertentu atau macet cet). Kondisi jalan sih lengang abis, eh si loreng naik ke flyover. Mungkin dia lupa kalo dia naik motor (tapi ya masa ngerasa naik mobil tapi pake helm πŸ˜‚). Lewatlah aku di jalan bawah, dan sempat kena lampu merah.

Setelah jalan beberapa menit, eh aku ketemu di loreng lagi. Kejebak macet di jalur kiri krna bemo berhenti dadakan. Aku di lajur kanan dan langsung cus.

Sambil mikir dan tertawa geli.

Aku dulu pas kuliah, bukan tipe pengendara motor yang suka pake almamater kampus jadi pengganti jaket. Selain gak nyaman, itu juga freak menurutku. Gak nyaman karena saat terjadi hal buruk atau kecelakaan, pasti almamater kena masalah “oh mahasiswi kampus X”. Freak karena itu bukan jaket dan ngapain dipamerin di jalan.

Secara gak langsung almamater dan atribut lain yg jadi identitasku itu bakal gambarin aku banget. Akupun lebih berhati-hati. Lebih baik kalo ngelakuin hal bodoh, gak usah nunjukin kamu siapa.

Jadi cerita di atas, yang buat aku geli dan tertawa adalah “kok gak malu ya”. Identitas si loreng kan jelas tuh, aparat negara, abdi negara, wakil dari masyarakat dll. Seharusnya jadi contoh dong buat kita masyarakat biasa, kok malah ngeliatin gak bener. Bisa dong masyarakat biasa ikutan gak bener terus bilang “eh si loreng aja gak lu tilang, kenapa gue di tilang” ups vulgar. Ya gak?

Aku cuma bersyukur sekaligus bertanya dalam hati, kira2 si loreng kalo ajarin anaknya naik motor gimana ya? Kira-kira kalo boncengin anaknya naik motor gimana ya? Kalo ternyata ngelanggar juga apa ada jaminan anaknya gak bakal ngelakuin hal yg sama. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya kan? Duh kasian.

Dan satu hal yany bikin aku mikir lagi adalah ngelakuin hal gak bener ya hasilnya gak bener juga. Orang jaman sekarang suka memanipulasi atau melakukan segala cara untuk dapetin hasil maksimal. Ada yang berhasil (liat aja koruptor), ada juga yang gak berhasil alias gagal total (liat aja koruptor dipenjara). Gak usah lah ngomongin koruptor, kompromi itu udah salah.

Aku teringat di satu scene film Cek Toko Sebelah, saat Aming mau berjudi dan dia bilang “judi goceng gini gak dosalah”. Padahal judi mah judi aja, sama keluarin duitnya. Itu contoh kecilnya.

Aku percaya semesta itu punya caranya sendiri untuk menghasilkan apa yang kita lakukan. Orang bener selalu dapat ketidakadilan? Ya bener. Mau orang bener atau gak bener pasti pernah dicurangin. Namanya juga masih injak bumi. Keputusan ada ditangan kita, maukah kita wariskan hal buruk ke anak cucu kita?

-icho-

Untitled.

Ada perasaan sedih.

Ada perasaan marah.

Ada perasaan kecewa.

Ada ketiga perasaan itu, bukan untuk orang lain, tapi ke diri sendiri.

Ingin nyenengin diri sendiri

Ingin berharap lagi.

Ingin seperti dulu.

Ada tiga keinginan tapi gak tau harus mulai darimana.

Ngerasa gak kuat kalo harus ditanggung sendiri.

Ngerasa gak sanggup juga kalo harus cerita.

Ngerasa gak tau harus memposisikan diri seperti apa.

Pernah memutuskan untuk share, tapi berakhir dengan perasaan bersalah.

Pernah memutuskan untuk berekspresi yang sebenarnya, tapi berakhir semakin tidak baik.

Pernah memutuskan untuk pergi jauh dan melampiaskan semua sendiri, tapi tetep aja sia-sia. Kembali ke realita, dan masuk lebih lagi ke kesedihan yang gak terkatakan.

Sometime, lebih ‘bahagia’ ketika ‘mask on’ saat bertemu orang. Saat dimana, ya i forget about my self. Dan ketika harus kembali sendiri, ‘mask off’ dan ada sekumpulan kesedihan yang siap untuk masuk kembali.

Apa kabar hari ini?

Entahlah, orang bilang ini hari bahagiaku dan banyak orang mengharapkan aku sebahagia harapan mereka. Sayangnya, dihari inipun aku gak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Ya, ekspektasi mereka.

Ekspektasiku, cukuplah untuk melewati hari ini tanpa kesedihan lagi, tanpa perasaan bersalah lagi, tanpa kenangan lagi.
Smile.

You can do it! more..more..

Salah satu destinasi favorit aku selain laut adalah gunung. Banyak pohon ijo-ijo bikin adem mata, hawa dingin meski tanpa AC, makanan enak(efek udara sih, adem2 pasti bawaannya laper) dan cenderung sepi sehingga cocok untuk semedi *loh. Gak ada alasan buat gak suka pegunungan buatku.

Pengalaman menarik buatku bukanlah saat sudah sampe di atas gunung, tapi prosesnya. Jalan yang berliku, tanjakan yang tajam, perbedaan atmosfer antara dunia atas(masuk pegunungan) dan dunia bawah (kota), hingga lucunya transportasi darat yang berusaha nanjak atau ngerem biar gak tergelincir.

Sebelum melakukan perjalanan aku sering sekali melihat ke arahnya dan bilang “jauh juga ya, dari sini sih cuma keliatan gundukan”. Dan ku putuskan untuk berangkat. Perlahan motorku(genk motor nih) mulai ke arahnya, semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin jelas. Yang awalnya aku cuma lihat satu gunung hingga terlihatlah beberapa gunung. Ku lanjutkan perjalanan, semakin nanjak semakin kurasa perbedaan atmosfer hingga aku bisa lebih dekat dengannya dan ternyata gunung itu bukan cuma gundukan, tapi dikelilingi pepohonan. Aku lanjutkan kembali, semakin nanjak dan aku gak melihat ada gunung lagi, aku pikir “salah jalan?”. Tapi setelah melanjutkan perjalanan 100m, aku sadar aku sudah di atas gunung dan jalanan mulai menurun. Dari atas aku bisa lihat perkotaaan, persawahan dan macam-macam tapi aku lebih fokus ke jalan “menuruni gunung itu ngeri”. Aku turuni jalanan itu perlahan dan aku sampai dibawah dan lagi-lagi aku melihat gunung itu hanya sebuah gundukan tanpa kejelasan “motif”.

Aku teringat sesuatu :

“Mimpimu itu seperti mendaki gunung dan yang perlu kamu lakukan bukan hanya melihatnya dari kejauhan tapi mendekatinya hingga kamu sadar, kamu bukan lagi dalam tahap melihat mimpi tapi kamu sudah berada di puncak mimpi itu”

Mimpi itu bukan cuma untuk dicatet, disimpan dalam notes kemudian terlupakan. No, mimpi itu perlu diberi aksi, supaya bereaksi atas hidupmu. Tanpa aksi ya mimpi atau cita-citamu tak lebih dari mimpi di siang bolong. Kalo istilah wong jowo kuwi “percum tak bergun” alias percuma dan tak berguna.

Kalo saat ini kamu rasa mustahil, lakukan lagi dari awal, terasa berat, tembus keterbatasanmu, lelah, istirahat bolehlah tapi kembali fokus. Jalani terus hingga tanpa kamu sadari mimpi itu sudah ada di tanganmu. Dan, ulangi kembali dari tahap awal dengan meraih mimpi-mimpi yang baru.

Regards, cewek yang hobi cari gunung dan foto awan.

S.ilent (Mini Story – part 1)

“Hmm…..” dia menatapku tajam sambil memainkan tangannya.

“Kenapa?” 

“Kita itu udah temenan lama, tapi aku selalu gak paham jalan pikiranmu..”

“Apaan sih?”

“Enggak sih, aku cuma mikir, kenapa aku gak bisa tahu 100% tentangmu” dia mulai merilekskan badannya sambil minum kopi favoritnya.

“Ya iyalah, elu bukan Tuhan, bukan juga mama gue. Mama aja paling tau 75% hidupku” tertawa kecil dan kembali bermain hp.

“Gila lu, mama lu cuma tau 75%? Terus gue berapa persen?” dia kembali menegakkan badannya dan gerak-geriknya penasaran seperti menunggu jawabanku.

“Hmm, mungkin 50% hehe” aku mengangkat senyumku dengan terpaksa.

“Astaga seriusan?? Gue pikir gue udah kenal banget sama lo. Hm, terus ada seseorang yg kenal lo lebih dari 90%?” nada bicaranya semakin menunjukkan bahwa dia penasaran.

“Ada sih, hampir 95% mungkin. Gue aja kalah sama nih orang” aku menggaruk kepalaku, mikir sih kenapa bisa gitu.

Aku selalu percaya bahwa kita bisa memahami orang lain tapi untuk memahami diri sendiri kita mungkin lemah. Ya meskipun itu bisa ‘cegah’ sih, semakin dewasa pasti kita paham diri kita sendiri. Mulai berpikir logis dan minggirin yang namanya perasaan, cewek terutama. Perasaan emang selalu bersebrangan dengan logika. Ketika logika lo bilang ‘gak’ tapi perasaan lo bilang “ya” atau “mungkin”, lo pasti ambil resiko untuk jalanin pake perasaan.

Aku selalu percaya “3 aspek prinsip gue : waktu yang salah, suasana yang salah dg orang yang salah adalah buruk. Jika 2 aspek saja yang benar, tetap aja buruk. Dikatakan baik jika 3 aspek semuanya benar, waktu yang tepat, suasana yang pas dengan orang yang tepat adalah baik.”

Sayangnya karna prinsip itu, aku selalu main perasaan dalam persahabatan. Sahabat punya beberapa, temen apalagi, banyak sih, tersebar ke seluruh penjuru. Meskipun “beberapa” itu gak menjamin mereka tahu bener hidupku. Karena lagi-lagi balik ke prinsip di awal. Masalah tipe 1 aku bakal ke cerita ke A, masalah tipe 2 bakal cerita ke B dan seterusnya. Aku merasa relevan aja dengan “beberapa” itu.

Tapi, ada seseorang, ya seseorang yang saat aku bersamanya, aku bener-bener lupa prinsip “aneh” ku. Dia yang selalu bisa baca kondisi, raut muka, gerak-gerik sampe bisa mendeteksi jika aku ada sesuatu, aku akan ganti “model baju”. Ya sampe segitunya, segitunya banget.

Tiba-tiba muncul chat di hpku

“Segini banget marahnya sampe gak read chat gw? Seriusan gak read chat gw sampe 4 hari? Gak kepo lo? Gak gatel tangan lo liat notif chat banyak?”

And da*n, He knows what i feel. 

Movie &Book Review “Critical Eleven”

Movie

Aku bukan penggemar film bergenre romance, kecuali romance ala-ala disney. Karna film romance itu kebanyakan gak realistis. Tapi begitu tau akan dirilis film “Critical Eleven”, aku excited banget. Bukan karna sudah baca bukunya(blm baca bahkan baru tau ada bukunya), tapi aktor dan aktrisnya jempolan semua. Dan aku putuskan buat nonton dan tidak baca review atau terlalu kepo, cuma liat rating doang di rottentomatoes dan trailer doang.

Kesan pertama film Critical Eleven, digarap serius! Dan bener-bener ‘serious’ romance. Dari pemilihan aktor dan aktris, cerita, cara pengambilan gambar, lokasi syuting sampe soundtrack. Gila lah, gak pernah aku sepuas ini dg genre romance, film indo pula.

Oke pertama, aktor sekelas Reza Rahardian si Mr. ‘dia lagi dia lagi’, kayanya gak pernah main-main kalo pilih film dan peran. Sebut aja jadi Habibie dan Bossman yang nyebelin itu, dia telan mentah dan keluarin mateng alias totalitas, ibarat kaya steak medium well. Gambaran Ale yg dia mainkan itu sempet bikin aku gundah gulana “ada gak ya lelaki serealistis itu tapi juga berperasaan di dunia nyata” haha. Dan, Adinia Wirasti sebagai Anya. Acting Nya totally Awesome. Terpikat oleh pesona karmen di AADC, dan Mbakyu di CTS, di film ini Asti makin gila! Apa yang dia perankan bener2 kaya relate ke aku. Dada sesek liat ni orang 😭. Dan aktor+aktris senior sekelas Slamet Rahardjo dan Widyawati yg aduuuhh, keren lah. Buatku ada 1 org scene stealer tapi maaf dalam arti buruk, Dwi Sasono. Dia pasti berusahalah serius jadi dokter, cuma image Mas Adi yg nempel di kepalaku, jadi kebawa lucu dan sayang sekali tawa itu muncul di scene penting dan agak merusak (ini kenapa mengubah image itu gak gampang).

Cerita, semuanya realistis dan keren. Di awal aku dibawa baper ke romansa Ale dan Anya, senyum tipis bayangin manisnya pertemuan mereka dan sedikit ‘nakal’nya Ale. Paruh kedua sampai ending dibawa baper negatif, merasakan perasaan mereka, sayang tapi marah, mau menyerah tapi sayang, apa yang dipikir gak bisa dikatakan dan perasaan2 aneh lainnya. Konflik yang terjadi juga realistis banget, itu membuktikan bahwa dalam pernikahan, cinta itu gak cukup. Harus ada komitmen dan menjalani suka dan duka bersama(ada alasan kenapa di bold). Mungkin dalam pernikahan kamu punya sejuta alasan untuk mengakhirinya, tapi ada satu alasan untuk tetap bersama. Pengambilan gambarnya juga jempolan, pemilihan lokasi syuting di New York itu juga keren, Central Park tetep favorit.

Dan terakhir, Soundtrack. Lagu ‘New York’ cukup menggambarkan  sweet dan serunya disana. Dan Official Soundtrack, Isyana Sarasvati berhasil bikin lagu yg mellow abis. Tiap dengerin lagunya, langsung kebawa bapernya film. Pemilihan piano dan string juga awesome sih. Pas.

Rating : 4,3/5
Buku

Entah apa yang harus aku diceritakan untuk mendeskripsikan buku ini. Kalo kalian sudah nonton filmnya dan bilang filmnya keren, aku jamin bukunya berkali-kali lipat lebih keren dari filmnya. Bikin baper?? Buangeeett!! Intinya, dari halaman pertama baca pasti pengen ngelanjutin terus tanpa jeda. Aku habiskan dalam 5jam. Baca, baper, berhenti bentar, atur nafas, baca lagi, baper lagi, cari tissue, baca lagi dan seterusnya.

Setahunan ini jarang banget baca novel. Kesanku ketika baca ini adalah keren. Dari awal kita sudah dibawa untuk berpikir dari kedua sisi tokoh, hanya Ale dan Anya. Apa yang Ale pikirkan, semua dikupas begitu dalam dan juga apa yang Anya rasakan,kata demi kata terasa begitu real. Alurnya juga maju mundur semacam flashback gitu. Jadi pas baca kudu bener-bener konsentrasi. Awalnya aku agak bingung sih tapi setelah 5 halaman sudah mulai paham dan menikmati hingga akhir.

Ika Natassa bener-bener berbakat. Gak gampang bikin buku yang kalo dibaca itu gak ngebosenin. Gak gampang bikin buku yang kalo dibaca itu kita bener-bener relate tanpa mikir impossible. Karakter Ale dan Anya yang dia bangun juga begitu kuat sampai pembaca akan terpisah jadi dua kubu #TeamAle dan #TeamAnya, meskipun saya pribadi adalah #TeamAleAnya. Kenapa? Karena Ale itu contoh lelaki idaman(buatku sih) dan Anya adalah perempuan sama kaya aku yang kadang bingung harus berbuat apa ketika pikiran dan hati gak sejalan haha. Namanya juga cewek!

Review : 4,7/5 (totally i love this book) 

Aku kutip beberapa quotes dari buku ya. Please jangan baper berlebihan. Karna baper bikin laper dan laper bikin gendut.

“Nya, waktu itu kamu pernah cerita kan kalau lagi presentasi ttg strategi ke klien, kamu selalu bilang begitu kita mulai sepakat untuk menjalankan suatu strategi, we have to bet everything in it, harus total, anggap kita sudah menyeberang jembatan kemudian jembatannya itu kita bakar. There’s no turning back. There’s no chickening out in thr middle and go back. This is it. Aku ke kamu juga begitu, Nya. Dengan kamu, aku sudah bakar jembatan, Nya. I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward, with you. So marry me?”

“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita”

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis dalam pesawat – tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing – karena secara statistik 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang waktu tersebut. In a way, its kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah – delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tsb jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu atau justru menjadi perpisahan.

“Bapak Aldebaran Risjad, dari semua orang di dunia ini, kamu satu-satunya orang yang gak mungkin nyakitin aku”


Major vs Minor

Oke, judulnya pasti menimbulkan sesuatu yang sensitif untuk beberapa orang yang menyebut dirinya indonesia.

Ini hanyalah catatan dari kaum minoritas.

Terlahir sebagai seorang anak berkelamin perempuan, beragama kristen dengan keturunan manado-jawa.

Sejak TK hingga SMP bersekolah di Negeri dan selalu mendapat cap minoritas.

Saya orang jawa yang bersekolah dengan banyak orang jawa, tapi saya minoritas ketika harus menyebut agama.

Berbeda dengan SMA dan Kuliah, saya bersekolah di yayasan Kristen dan Katolik.

Saya beragama kristen dan sama dengan kebanyak teman saya lain, tapi tetep ada yang menyebut saya minoritas ketika mereka menyebut saya Jawa (padahal manado ✌️), karena face & color skin “njawani” dan kebanyak teman saya dari etnis tionghoa.

Berbeda lagi ketika saya kursus dance dan LBB.

Saya kira saya tidak akan mendapat cap minoritas, tetapi tetap saja saya berbeda karna warna kulit saya yg cukup gelap.

Saya tidak pernah seutuhnya menjadi mayoritas dan tidak juga sepenuhnya minoritas. Berlaku semena-mena? Pernah. Diperlakukan tidak adil? Juga pernah. Selama masih nginjek bumi, gak ada yang keadilan sempurna, right?

Indonesia ini indah karna keberagamannya dan itu yang membedakan dengan negara lain. Dan itu juga yang membuat iri bangsa lain, pastinya bukan setahunan ini πŸ™‚ Pahamlah ya maksud saya. Ketika mayoritas merasa berkuasa dan bisa berbuat seenaknya dan minoritas hanya bisa menyangsikan dan menerima meskipun gak legowo. 

Akupun mulai berpikir, 

Benarkah indonesia sedamai ini dari dulu? Ataukah ini adalah sebuah riak yang muncul dari lama hanya saja tidak disuarakan?

Mari kita ambil contoh, gak usahlah ngomongin mayoritas atau minoritas, manusia itu suka ngejudge orang dari kesukuannya, seperti :

  • Orang batak emang gitu, kalo ngomong pake toa
  • Orang manado itu pagi siang sore party suka minum-minum
  • Orang jawa itu cocoknya kerja ikut orang
  • Cina pelit
  • Orang itu papua itu keras.
  • Dan blablabla.

Aku yakin beberapa statement itu gak asing bagi orang indo. Begitu gampangnya kita nge-judge orang cuma dari kesukuannya. Salah banget padahal kalo kita menilai seseorang dari apa yang tidak ia lakukan, apalagi dari kelompoknya.

Aku pernah denger statement kaya gini :

Jangan pernah menilai anak dari kelakuan bapaknya. 

Meskipun anak punya sebagian genetik bapaknya tapi jika kita langsung menilai seorang anak dari kelakuan buruk anaknya itu gak adil. Anak punya pilihan men. Dan buruknya lagi, sudah gak kenal eh kok nge-judge. Dalam bahasa jawa disebut gendeng!

Saat kita sudah meninggalkan pemikiran “aku mayor, kamu minor terus kamu bisa apa” atau sebaliknya, kita bisa membentuk hubungan yang baik.

Kita punya sejuta alasan untuk cari perbedaan, tapi juga punya satu alasan untuk tidak melakukan itu “kenapa tida

Ketika kita memilih untuk menyamakan daripada membedakan, sebenarnya kita sedang mendalami makna pancasila. Nilai-nilai pancasila itu indah men dan nilai-nilai itu sudah menuntun kita untuk melihat betapa WOWnya indonesia.

Sayapun belajar menghargai dan mengasihi setiap orang disekeliling saya, dan saya bersyukur masih buanyaaakk orang-orang yang gak lihat perbedaan tapi menyatukan perbedaan itu menjadi warna yang indah.
Saya Indonesia, I’m proud to be Indonesian dan kulo tresno Indonesia.
(Nb. Mari kita bahas toleran vs intoleran selanjutnya ya)

Say Yohooo…. (Introduce)

Holaa bro!

*Kenapa bukan sist? Karna bukan online shop! Haha*

Kenalin nama aku Agnes Eliza Musa. Terserah sih mau panggil aku apa(yang pasti bukan musa, karna itu fam name gue 😁). Aku seorang entrepreneur yang lagi berusaha beneran pengen jadi entrepreneur ahahaha(masih berjuang kakak!). Suka segala sesuatu yang kreatif, gak suka nganggur, gak suka liat orang nganggur juga, sometime suka ngatur dan gak suka diatur, suka masak tapi juga suka beli makanan, suka jalan-jalan tapi gak suka keluar duit✌️.

Sebenernya punya hobi nulis sudah lama, punya beberapa blog tapi sudah tak terawat. Meskipun tulisan aku gak bagus sih(saya mengaku), cuma suka aja coret-coret dari yang gak jelas sampe yang bikin orang berdecak kagum(alay!).

Ide nulis bermula, eh gak sih, maksudnya muncul kembali ketika aku tau kalo nulis di Instagram ada limitnya haha. Makanya buat blog kan 😁. Suka cecoretan di IG bahas banyak hal, cuma sekarang keseringan review film sih, maklum anak pilem alias doyan ke bioskop. Kadang review makanan kalo makanannya enak pwol(suroboyo), sampe di kira aku endorse makanan. Yang pasti sih akhir-akhir ini lagi suka mikir, pemikiran mbulet(ruwet), dan bikin otak seger aja haha.

Aku cuma seorang warga negara indonesia yang pengen speak up. Untuk bangun indonesia itu terlalu muluk sih buat aku, cuma setidaknya aku pengen kasi sesuatu buat negara yang aku sayang hehe. Memilih share sesuatu yang positif daripada sesuatu gak guna. Memilih untuk koar-koar(berbicara) di blog daripada dijalanan(cukup naik motor aja kalo di jalan).

Do something.

Love, Agnes.